Rasulullah mengatakan
“Air mata boleh mengalir , hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah Ridha” (book Khadijah, the true love story of Muhammad)

Semoga Allah menjaga yang terkandung bila itu baik, dan mengeluarkan bila itu buruk. Semoga perasangka baik ini, memang sesuai takdir-Mu :)

aku tau, engkau ada di sana sayang… :(

Berbagi untuk sahabat-sahabatku, sang istri tercantik untuk melanjutkan cerita hidupnya dengan sahabat terbaiknya, rekan hidupnya, tuan dalam pengabdian hidupnya, pelengakp agamanya dan yang senantiasa menjadi teman untuk belajar menjadi istri idaman…

Abu Darda’ membuat kesimpulan mengenai hal-hal yang tidak disukai para lelaki dari seorang perempuan. Ia mengungkapkan hal tersebut kepada istrinya dengan bersyair :
Terimalah permintaan maafku, niscaya engkau akan selalu mendapatkan kasih sayangku

Janganlah engkau memberikan komentar tentang kondisiku, ketika aku dirundung amarah.

Janganlah engkau lari dariku, niscaya aku akan memutuskan perkara yang dapat menjadikan aku memukulmu di lain waktu.
Sebab, engkau tidak akan pernah tahu bagaimana seorang istri yang ditinggalkan oleh suami mereka

Janganlah engkau banyak berkeluh kesah dan pergi dengan hawa nafsu, sehingga engkau tak mempedulikan hatiku, sedang hati itu berbolak balik tak menentu.

Sesungguhnya aku hanya melihat cinta itu berada di dalam hati, dan jika hati yang sakit itu bersatu dengan cinta, niscaya cinta tiada akan nampak

Quote by book of DR. Muhammad Kamal Zainuddin

Dan ternya istri idaman bukanlah sejumlah kelebihan dan perawakan yang dibawa dari lahir, gadis hingga berubah menjadi istri. Tapi Istri idaman itu melalui proses pembelajaran tiada henti untuk membentuk diri kita menjadi seorang istri idaman saat menjalani sebuah pernikahan. be the best wife, sahabatku…

*inipun lebih untuk diriku sendiri, untuk hidup baru yang akan kujelang dan pasti akan datang :)

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa, jika di dalam hutan

(Imam Syafi’i)

Mukaddimah dalam novel Negeri 5 Menara

Bismillahirrahmanirrahim….
Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi wassalam tak hanya seorang nabi. Beliau juga seorang dokter. Nyatanya, beliau memang melakukan praktek pengobatan. Praktek pengobatan Nabi inilah yang kemudian oleh para ulamadiberi label thibbun nabawi. Metode tersebut kemudian terus dikembangkan para sahabat dan ulama. Pengembangan itu sedemikian rupa. Bahkan, karena itu barat belajar kepada para ulama. Salah satu tokoh Islam yang hingga kini masih menjadi rujukan kedokteran konvensional adalah Ibnu Sina. Apakah yang telah dilakukan Ibnu Sina sehingga kepadanya disematkan “Bapak Kedokteran Modern”?

Read the rest of this entry »

Pada suatu hari, Isham bin Yusuf berkunjung ke majelis pengajian Hatim Al-Asham. Kunjungan itu dimaksudkannya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyan yang memojokkan. Katanya, “Hai Abu Abdurrahman, bagaimana cara tuan shalat?”
Hatim menoleh kepadanya, lalu menjawab,” Bila waktu shalat tiba, maka saya mulai berwudhu dengan wudhu lahir dan wudhu batin.”
Isham bertanya, “Apa yang Tuan maksud dengan wudhu batin itu?”
Ia menjawab, “Jika pada wudhu lahir, saya mencuci anggota tubuh saya dengan air, maka pada wudhu batin, saya cuci dengan tujuh macam “jalan”, yakni dengan bertobat, menyesal,menghapuskan cinta dunia, memalingkan diri dari pujian makhluk, membuang rasa cinta kepada pangkat dan kedudukan, serta membuang rasa benci dan iri. Kemudian saya pergi ke masjid. Ketika saya mengangkat kedua belah tangan untuk takbiratul ihram, maka tampaklah Ka’bah di hadapan saya. Saya berdiri dengan perasaan harap dan takut. Allah memandangku, surge di kananku, neraka di kiriku, dan malaikat maut di belakangku. Dan seakan-akan saya sedang meletakkan kaki di sirathalmustaqim, saya berpikir bahwa itulah shalat terkhir bagiku. Lalu saya takbir dengan sebaik-baiknya, membaca ayat dengan tartil dan tafakur, ruku dengan tawadhu’, sujud dengan tadharru’ ber-tasyahhud dengan penuh harap, dan saya akhiri dengan salam yang tulus ikhlas. Inilah shalat saya selama tiga puluh tahun.”

(Dikutip dari buku “Wudlu sebagai terapi”)

Ditengah badai yang dingin, suatu hari ku menemukan kedai yang begitu hangat…. Para sahabat yang juga dingin entah karena hujan yang begitu lebat ataupun salju yang terus mengguyur tubuh, mari minum teh…
Teh poci ala sufi

TEH ini ini benar-benar menyegarkan jiwa, membuang kolesterol dalam hati, menyemangatkan ibadah, dan membuat hati husnudzon dan optimis kepada Rahmat allah swt.

Itulah yang disajikan dalam menu Kafe Sufi. Semua pelanggan biasanya selalu memesan teh ini, baik diminum sesudah menikmati menu lain, atau sebagai penghantar. Selain baru dipetik dari Kebun Ma’rifat, teh ini disajikan dengan tatacara yang unik. Para pelayannya dan penyedu the ini, diwajibkan berwudhu lebih dahulu, dan setiap gerakan seduanya membaca Basmalah, sembari terus berdzikir dalam hatinya.


Read the rest of this entry »