Rasulullah mengatakan
“Air mata boleh mengalir , hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah Ridha” (book Khadijah, the true love story of Muhammad)

Semoga Allah menjaga yang terkandung bila itu baik, dan mengeluarkan bila itu buruk. Semoga perasangka baik ini, memang sesuai takdir-Mu :)

aku tau, engkau ada di sana sayang… :(

Kalau aku bisa depositokan air mataku, akan kucairkan sebagian untuk kebahagiaanku beberapa hari lagi dan sisanya kusimpan untuk setelahnya…
Agar ia tak jatuh hari ini…
Kesedihan yang tak dianggap…

Pada hari-hari terakhirpun ujian semakin mendera, menyerang dan bertahan. Hanya dengan mengeluh pada-Mu, semuanya akan menguap setitik demi setitik.
Apapun, aku menerimanya :)

Walaupun selangkah lagi, bahkan setengah langkah saja…
Semua telah diatur oleh-Nya…
Untuk jalan yang begitu indah berliku, dan peristiwa yang tak terduga..
Sungguh Allah-lah sebaik-baiknya Pembuat Janji

Singkat, hingga di titik ini…
tapi ini adalah awal untuk jalan yang tak singkat

diam itu tandanya iya..
diam itu artinya benar..
diam itu… ada indikasi ada luka
dan diam itu, menyimpan sakit yang terpendam

tidak perlu sedikit atau tidak, dalam atau dangkal, terlintas atau tidak, sakit ini datang dengan cara yang halus dan teratur. Tanpa ada vaksin yang bisa mencegah kecepatannya…

bukan maksud hati, memberi makan hatiku dengan cara seperti ini. hmmmm sudahlah, biarkan saja seperti ini… kita akan tau, seberapa dalam luka itu merasuk. :)

Sungguh, seperti pahlawan di dunia maya tapi pecundang di alam nyata….

Biarkan saja, setiap orang punya dunia, dunia yang menghanyutkan dan melenakan.Yang bisa membuatnya lupa dan melupakan teror masalah di hatinya. Tapi bisa juga sekedar mengalihkan pandangannya, mengacaukan pikirannya atau menerawang mimpi-mimpinya.

dan akulah pahlawan dalam duniaku, di sini..
dan akupun sebatas pecundang dalam kisahku, kisah yang belum terungkap dan takut kusingkap.

Atau, engkau juga cinta?

Sejak mendung menghiasi langit bali…

Sebentar saja untuk melihat, disini masih penuh dengan pekat …
Sebentar saja untuk mendengar, disini masih penuh tanya…
Sebentar saja waktu untuk merasa, karena disini masih ada praduga…

Bukan Allah tak tahu derita hidup kita dan retaknya hati kita. Tapi sebenarnya memang itulah yang Dia mau, karena Dia tau hati yang begitulah yang akan selalu lebih lunak dan mudah dekat dan akrab pada-Nya.
(terima kasih ya sobat yang sudah mengirim kalimat ini di inbox Fbku :) terima kasih karena mengerti bahwa aku sangat berat untuk memulai pembicaraan ini. Bicara, bahwa aku …. :( )

Inginnya tidak memikirkannya, bahkan membicarakannya, apalagi…. hmmmmm

Seperti telur, yang kita yakini akan menjadi anak ayam. Tak tahu, ternyata besok terinjak dan pecah…
Maunya mangga itu segera menguning dan manis rasanya, ternyata ada yang ngidam ingin mangga muda….
Inginnya semua bisa dibicarakan, tapi tak pernah ada dalam skenario kemarin dan hari ini…

Ini bukan masalah sekedar memberi kebebasan untuk memilih dan mengatur keinginan dan impian. Ini berbicara tentang oraganisasi yang akan kita bentuk. Semua harus dibicarakan, dipikirkan dan direncanakan bersama…

Karena kita tak sama…

Bila terus seperti ini, baiknya kita tak perlu membicarakannya lebih dulu…
Semakin hari stadium ketakutanku makin meningkat, tensi kebingunganku makin naik dan denyut ketidakpastian itu makin cepat

Semakin ditunda membicarakannya, akan ada kebaikan lain yang tertunda bahkan semakin samar kepastiannya

Aku ingin bicara tentang warna-warni itu, warna yang aku suka…
Dan hanya aku, tanpa yang lain :(

Sungguh, ini tulisanku yang menyebalkan

Bagaimana bisa terbang bila hanya satu sayap yang mengepak
Bagaimana bisa berkembang bila putiknya patah
Dan akankah adanya hari tanpa melewati malam?

Aku bertanya tentang apa itu pasangan jiwa? Diakah yang selalu menemani atau yang hanya mengawasi? Yang selalu mendengarkan atau yang selalu diungkapkan? Ada disini atau hanya di hati? Yang pernah menyakiti atau selalu menyayangi? Apakah yang sama atau selalu berbeda? Lalu yang bagaimana?
Dan apa itu pernikahan? Pengikat janji atau perjalanan sehidup semati? pemuas nafsu atau hanya karena merasa perlu? Pilihan karena saling cinta? Mungkin hanya paksaan semata?

Apapun jawabannya dan maknanya, akhirnya akan menimbulkan pertanyaan baru. Apakah ia? benarkah seorang dia? Terlalu banyak tulisan-tulisan yang menjabarkan cara penerimaannya, buku-buku yang berjudul sama. Yang kadang hanya ditulis orang-orang yang belum melewatinya. Jadi, ikuti kata hati dan jalani…
Siapapun dia yang menggenggam tangan sang bapak, dialah pasangan jiwa yang dipilih Allah melalui hati. Dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya, pasti ada berbagai kelebihan yang tersimpan didalamnya. Demi kebaikan hidup saat ini, besok dan akhirat nanti.

Bismillahirrahmannirrahim, semoga semua dalam keridhaan-Nya dan ridha orang tua. Amin