Rasulullah mengatakan
“Air mata boleh mengalir , hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah Ridha” (book Khadijah, the true love story of Muhammad)

Semoga Allah menjaga yang terkandung bila itu baik, dan mengeluarkan bila itu buruk. Semoga perasangka baik ini, memang sesuai takdir-Mu :)

aku tau, engkau ada di sana sayang… :(

Sungguh, seperti pahlawan di dunia maya tapi pecundang di alam nyata….

Biarkan saja, setiap orang punya dunia, dunia yang menghanyutkan dan melenakan.Yang bisa membuatnya lupa dan melupakan teror masalah di hatinya. Tapi bisa juga sekedar mengalihkan pandangannya, mengacaukan pikirannya atau menerawang mimpi-mimpinya.

dan akulah pahlawan dalam duniaku, di sini..
dan akupun sebatas pecundang dalam kisahku, kisah yang belum terungkap dan takut kusingkap.

Atau, engkau juga cinta?

Akhi yang baik, hari ini hari pernikahanku
Dengan seorang lelaki sholeh yang telah melamarku sebulan yang lalu
Walau aku telah membuka pintu hatiku padamu sejak lama
Tapi engkau tak pernah datang

Akhi yang baik, hari ini hari bahagiaku
Kau berada di antara kerumunan undangan dan aku tahu itu
Kau menitikkan air mata melihatku duduk di pelaminan dengan seorang lelaki
entah haru, kecewa atau bersyukur, aku tak tahu maknanya
Engkau lebih pintar bertutur kata dan mengelak, aku paham itu

Akhi yang baik, Jangan terlalu lama memilih wanita sempurna
Tidak ada lagi wanita sempurna di akhir jaman ini
Menikahlah Akhi, agar engkau berjalan dalam sunnah Rasulullah sebenarnya
Bukan sekedar kata-kata wacanamu semata yang menghiasi hidupmu
Tapi ada belahan imanmu menemani hari-hari dakwah bil hikmahmu…

(Irfan Dive 02112010)

tulisan ini saya dapatkan di facebook, untuk sahabat yang merasa ini tulisan hasil karyanya, saya mohon izin untuk menerbitkannya disini. terima kasih dengan sangat dalam


Berikan satu alasan saja bahwa aku harus menunggu disini
berikan cukup satu alasan saja bahwa aku harus mencarimu
dan cuma satu alasan saja bahwa aku harus bertahan


Sebenarnya saya bukan penggemar film, hoby nonton juga tidak. Apalagi mengikuti perkembangan dunia perfilman. Malam itu saya tidak bisa tidur karena bintang kecil saya masih rewel dan terus mengajak bermain. Akhirnya mencet-mencet remote, kok pas liat RCTI ada film Merantau yang diperankan dengan sangat ciamik sama uda Iko Uwais. Membuat mata saya tak berkedip, tapi juga pengen merem karena adegan laganya.

Tenang bapak bapak ibu ibu, saya gak mau cerita tentang isi filmnya atau kegantengan pemeran utamanya, karena sudah banyak yang memuji, menceritakan dan punya kaset filmnya.iyoto iyoto iyoto…
saya lagi ingin cerita merantau versi saya dihubungkan dengan film merantau (maaf kalau kalimatnya mbulet).

Merantau, itu akan jadi jalan berat dan pilihan sulit untuk yang mengalami. Meninggalkan tanah kelahiran, orang-orang yang kita sayangi dan meninggalkan sejuta keenakan yang sebelum-sebelumnya mengelilingi kita. Apapun faktor penyebabnya, merantau itu hal tak mudah. Apalagi berpindah ke tempat yang benar-benar asing, dengan semua yang berbeda tanpa siapapun di samping kita. Niat, tujuan, komitmen, dan prisnsip awal harus dipegang teguh. Karena angin di tanah yang baru kita injak bukan sembarang angin. Bukan angin yang saat kita membungkuk akan lewat begitu saja….
Tapi angin yang bisa membuat kita buta dan lupa…
Lupa akan prinsip kita…
dan buta dengan jalan menuju tujuan kita…

Sungguh film semalam itu membuat saya sadar, hidup di tanah asing sangat mencekik, bisa membuat manusia seperti setan berwujud malaikat. Menggunakan banyak hal demi tujuan yang satu, membuat yang haram jadi halal, yang halal udah dikubur dalam-dalam. Semua dilakukan agar bisa makan dan tidur dengan layak, dan saat cuti ke tanah kelahiran bisa terlihat seperti orang mapan, berlebel kelas tinggi, membusungkan dada dan membuat warga desanya iri ingin merantau juga :D

Sulitnya tak hanya mencari yang namanya uang, tapi sulit mempertahankan akhlaq dan kebenaran. Jangan deh buru-buru ngomongin agama di tanah asing ini, yang ada bisa dibilang sok suci dan sok alim. Buru-buru mau berwujud agamis, yang ada malah dibilang gak modis. Kita ngeyel dan menjujung tinggi kebenaran di tanah sendiri sih emang patut dan udah biasa, tapi kalau ada orang keren yang konsisten dengan agama dan kebenarannya di tanah asing, ckckckckkc siiip banget tuh!
Kebanyakan mereka yang lupa, akan menuruti apa maunya uang, membuang seluruh waktu hanya demi uang, dan meninggalkan semuanya demi uang dan kesenangan.

Tapi tiap orang pasti punya cerita merantau versi masing-masing. Buruk, baik, senang, susah ataupun menderita…itulah jalan hidup. Karena merantau bukan semata-mata mencari kejayaan materi, tapi juga kejayaan hati.

beningDan Allah ta’ala telah menciptakan sosok Rasulullah Saw dari kalangan manusia, bukan dari trah malaikat yang patuh dan tak pernah salah. Diciptakan dari golongan manusia agar bisa menjadi tauladan dan mudah untuk dicontoh. Diciptakan dari kalangan biasa saja dan sederhana, bukan dari sosok pangeran berkuda putih, dikawal beratus-ratus pengawal ataupun dikelilingi para bidadari kerajaan.

Dilahirkan dari rahim seorang istri yang solehah, dilahirkan tanpa belaian  seorang ayah. dan tak lama….tanpa seorang ibunda. Dibesarkan dalam kesederhanaan yang menyempurnakan cahaya kenabiannya….

dan tak perlu kutiliskan lagi, sejarahnya telah terpampang di penjuru jagad. menjadi orang nomor wahid yang paling berpengaruh di dunia. Kstria perang terbaik yang pernah ada di bumi. Pembawa mukjizat tersempurna di alam ini. Dan hampir semua umat tau itu….

Aku hanya ingin tahu dan bertanya pada hatiku, adakah rasa rindu dalam dadaku untuk bertemu manusia hebat itu?

——merenung—–

siang-siang mencari pencerahan disini, perlu dibagikan buat temen-temen. karena menurutku, isinya sederhana tapi ngena di hati,semoga bermanfaat….

Kamu mau jadi sahabatku ketika ku berjanji, berjanji bahwa tidak akan ada lagi korban, janji bahwa suatu hari nanti aku akan berubah, janji bahwa aku akan menjadi pangeran yang lebih baik lagi. Kamu adalah putri pertama di kerajaan itu, putri dengan berbagai sifat yang unik. Kadang dewasa, kadang seperti anak-anak, tomboi dan gokil namun kamu penuh senyum. Sifat rendah hatimu menggambarkan bahwa kamu adalah seorang putri remaja yang mungkin nantinya akan menjadi seorang ibu yang akan mendidik dengan hati bagi anak-anaknya.

Seorang ibu yang mungkin akan menjadi awan yang teduh bagi anak-anaknya. Ketika peran ibu dapat dimainkan dengan baik maka sebuah keniscayaan bahwa sang suamipun akan merasa tenang dan tentram disampingnya. Ia akan menjadi istri yang mengerti bahwa suaminya tidaklah semulia Muhammad, tidaklah setakwa Ibrahim, pun tidak setabah Ayub, ataupun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf. Ketika suami menjadi raja maka kamu nikmati anggur singgasananya. Ketika suami menjadi bisa maka kamulah penawar obatnya. Wahai Putri Biru, engkaulah dambaan setiap pangeran di seluruh penjuru negeri….

Perlahan namun pasti akhirnya perasaan itu hadir, ketika sang putri mencoba menerimaku. Ketika dia tidak melihat masalaluku, saat dia tahu resiko menjadi permaisuriku. Dianggap aneh, dikucilkan, dibuang, malu dan dianggap mengkhianati kerajaannya. Karena dia yakin suatu saat, aku akan berubah. Dan jika saat itu datang, dia mau aku menjemputnya untuk pergi ke surga abadi, saat dia berikan jawaban YA atas cintaku.

Ku tahu dia tidak mau menunggu dan ditunggu tapi dia ingin kudatang lebih dulu. Ketika kumerasa tidak pantas untuknya, merasa tidak yakin pada dirinya namun keyakinannya pada diriku membuatku bertahan. Keyakinan itu yang membuatku mempunyai seribu harapan tentang dirinya, harapan bahwa kami akan menjalani hari-hari kami dalam indahnya kebersamaan, dalam indahnya payung Illahi.

Putri Biru bukanlah gadis yang romantis karena mungkin dia hanya bisa memanggilku dengan panggilan yang kusuka, hanya bisa memahami apa yang kumau, hanya bisa bersyukur menemukanku, hanya bisa berharap bahwa aku benar-benar untuknya dan mungkin dia memang hanyalah seorang putri dan bukanlah bidadari. Tapi usahanya menjadi yang terbaik bagiku telah menjadikannya putri yang telah mengharu biru di hati ini, ketika dia rela menjadi Fatimah yang menumbuk sagu dengan tangannya sendiri, ketika dia rela menjadi khadijah yang menginfakkan semua hartanya dalam dakwah, ketika dia rela hidup apa adanya bersamaku nanti, ketika dia mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Adakalanya putri tidak bijak, tidak dewasa, dan tidak mengerti.

Tapi apakah pangeran sepertiku bisa meluruskannya yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok? Sementara aku hanyalah seorang pengeran tanpa kerajaan, pangeran yang masih jauh dari kata baik apalagi soleh. Dalam banyak waktuku, hanya sebentar aku menyapa ”temanku” yang bertuliskan huruf Arab sementara untuk berbincang dengan ”temanku” yang banyak humor dan gambar, aku sampai lupa waktu. Saat suara adzan datang menyeru justru seruan yang lainnya yang kudengar dan kusambut. Benarkah pangeran ini pantas untuk putri biru?

Seorang wanita solihah yang selalu menutup auratnya, yang bicara dengan pria bukan muhrim tanpa menatap matanya, yang tidak mau berjalan bersisian dengan pria yang bukan muhrimnya. Ya Allah, apakah Engkau mengirimkan putri ini sebagai perantara datangnya hidayahMu untukku. Apakah Engkau mengirimkannya agar aku kembali menjadi pangeran yang baik lagi, seperti yang dulu lagi, yang taat dan patuh akan perintahMu.

Dan akhirnya setelah ”kebersamaan” yang sesaat ini…….

”Mas, jaga intensitas interaksi kita, jangan terlalu sering! Ibadahku jadi tidak khusuk, takut perbaikan diriku bukan karena Allah tapi karenamu, takut cinta itu bukan karena Allah. Kita seperti sedang ”pacaran” padahal kita tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan sebelum resmi menikah. Astaghfirullah…… Biarkan rasa itu tumbuh subur di tempat yang benar. Kita sudah punya bibitnya dan akan kita tanam di tempat dan waktu yang tepat. Aku tidak mau melupakanmu tapi kalau kamu mau aku diam, menahan perih karena rindu, pedih dan sakit karena tidak bisa menyapa ketika bertemu, terluka karena tidak bisa saling senyum Insya Allah aku kuat. Ibarat biji, aku harap cinta kita tidak mati tetapi sedang berdomansi, sedang menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh subur di hati masing-masing.

Saat ini kita ibarat sedang mengulurkan tangan ingin saling bertukar benih tapi kita tersadar bahwa belum waktunya kita untuk menukarkannya. Aku takut biji ini membusuk di hati masing-masing bukan subur seperti yang kita harapkan. Aku meminta kita menahan, bersabar, berdoa, berikhtiar sekuat-kuatnya dan bertawakal sepasrah-pasrahnya. Aku lebih meminta barokah dari Allah untuk cinta kita. Aku tidak mau Allah tidak meridhoi ikatan suci kita nantinya karena permulaannya yang salah. Insya Allah aku akan berdoa untuk kita, berdoa agar kita diberi kesabaran, kekuatan, kepasrahan sebesar-besarnya olehNya. Semoga kita bisa menghadapi semua ini dengan ikhlas. Wahai pangeran yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir kita.

Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucumu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang. Wahai pangeran yang telah mengusik pikiranku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia, akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Mintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, mintalah kepada-Nya agar tetap menempatkan malu ini pada tempatnya. Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA”.

Setelah membaca surat itu, akhirnya aku sadar bahwa hubunganku selama ini dengan sang putri adalah sebuah kesalahan dan kekhilafan. Sungguh betapa sangat inginnya aku agar sang putri menungguku hingga aku siap dan datang menjemputnya. Betapa inginnya aku untuk mengetahui kabar sang putri tiap hari. Tapi sungguh ternyata ada yang lebih kami cintai dibandingkan cinta diantara kami. Dialah Allah, yang membawa kami ke jalan ini, menuntun, merangkul kami dengan cinta. Dialah Allah, tempat kita meminta dan berharap. Dialah Allah, yang telah memberi kami kehidupan dan yang akan mematikan kami kembali. Dialah yang berkuasa penuh atas hati, jiwa, dan pikiran kami yang tidak ada seorangpun yang dapat menyamaiNya apalagi melampaui kekuasaanNya.

Dan Allahpun telah mengingatkan kita dalam firmanNya, ”wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…….” (QS. An Nur : 26).

Mungkin apa yang terjadi antara aku dengan sang putri adalah kehendak Allah untuk memberikan pelajaran padaku tentang apa itu arti hidup dan cinta yang sebenarnya. Tapi sungguh aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada sang putri, kusampaikan penghormatan setinggi-tingginya padanya, paling tidak dia sedikit mengubah hidupku. Dan akupun hanya bisa senyum atas ”kebersamaan” kami selama ini, entah senyum bahagia, senyum beku, atau mungkin juga senyum yang sudah tidak berbentuk lagi.

Dan pangeran inipun hanya bisa mengajak dirinya dan kepada para pembaca, yang khususnya sedang menanti kehadiran ”Putri Biru” ataupun sedang menanti saat yang tepat untuk menjemput ”Putri Biru” agar selalu mempersiapkan diri, agar terus dan tak pernah berhenti memperbaiki dan membina diri karena sungguh Allahlah sebaik-baik pembuat janji dan sebaik-baik yang menepati janji.

Dan kita sebagai hambaNya yang lemah dan tak berdaya harus memiliki hati yang ikhlas dan tidak tertindas dalam menerima setiap keputusanNya agar langkah ini bisa terus berjalan meskipun kadang harus berhenti, agar mimpi-mimpi kita dapat segera terwujud, dan agar nada-nada yang telah hilang kembali tersenandungkan.

 

Adzan subuh memanggil dengan lantang, membuatku harus beranjak ke kamar mandi. Hawa subuh yang menyengat kulit dan menusuk tulang, hampir membuatku enggan. Suasana desa yang sepi, suara ayam dan burung masih nyaring di sana sini, makin menambah semangat pagi.

Nenek sudah asyik di dapur ditemani kucing kesayangannya dari sebelum subuh. Selama ini, kucing inilah yang menemani kakek dan nenek selama anak cucunya pergi ke tanah seberang. Tubuhnya makin kurus, digerogoti penyakit kerinduan yang kuharap kehadiranku bisa jadi penawarnya.Kakek, yang tegap dan alhamdulillah sehat sudah persiapan berangkat ke sawah.

Belajar memasak dengan nenek, pergi ke sungai, berbaur dengan tetangga. Sambil menikmati sejuknya desa (baca: dingin), yang belum terbiasa untuk kulitku. Untuk mengisi waktu, main ke kota dulu ah,,, bertemu sahabat-sahabat, sambil cari ilmu dan peluang rezeki.

Kotaku,,, masih seperti dulu. sibuk diwaktu siang dan lengang saat beranjak malam. setelah isya’ semua gorden tertutup rapi dan penghuninya sudah berselimut ria sambil menonton televisi. Pelajaran sosialisasi, bisa kudapatkan penuh disini. Bagaimana nantinya aku harus hidup bermasyarakat dan bertetangga. Pelajaran yang tak pernah kudapatkan selama di tanah seberang. Ajaran keegoisan, sak karepedewe, sumpah serapah dalam keluarga, kekerasan dan ajaran bagaimana harus bertahan dalam keadaan itu. Kompleks….

Senyum-senyum dan pelukan yang kurindukan,,, teriakan keakraban yang membuatku sungguh sangat mencintai kotaku dan segala isinya. tutur bahasa halus yang membuatku nyaman… Saat itu, tetangga-tetanggaku sedang berkumpul bermain voli di tanah yang tak begitu luas. hal kecil yang bisa menciptakan keharmonisan.

Hmmmm aroma masa kecil semakin menusuk ingatanku dan makin mengahnyutkanku ke masa lalu. dulu di tanah itu aku bermain dengan sohib-sohib kecilku yang kini telah beranjak dewasa. Beramai-ramai pulang pergi sekolah, walau kadang kita juga musuhan hanya karna hal sepele. Kini, mereka yang slalu memelukku saat dadaku sesak dan akupun begitu. masa yang indah…

Sebelum maghrib, aku harus pulang. aku tak mau kakek nenek cemas, karena jarak yang lumayan jauh, area yang lumayan sepi, keadaan jalan yang teksturnya gak begitu bagus dan cuaca yang makin dingin. Sesuai dugaanku, kakek sudah menunggu di teras, ditemani kucing yang asyik dengan santapan petangnya.

Dan malam makin larut, desa makin senyap. Aku yang lelah, terbuai alunan mimpi dan terlelap..

Ku hanya ingin, setiap saat ku buka mata, hawa subuh itu yang kucium… semoga.

Ya Rabb, wujudkan mimpiku

Ini yang sedang marak di beritakan dan dibicarakan, bahkan memang sedang menjadi realita terkini. Gozhul Fikr atau perang pemikiran. Beberapa minggu yang lalu, tema ini sempat sedikit digunjing dalam ta’lim remaja masjidku dan sebelumnya sempat membaca dari pesan tarbiyah yang kuikuti di dunia maya.

Budaya Gozhul Fikr ini merupakan upaya yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menghancurkan pikiran dan menimbulkan keraguan umat Islam terhadap Islam itu sendiri. Dan yang menjadi sasaran terbesar dan paling mudah adalah para PEMUDA.  Dan yang menjadi alatnya adalah 3F, yaitu Fashion, Fun, dan Food.

1. FASHION.  tak perlu ditanya, remaja mana yang tak ingin bergaya. Tak ingin mengikuti mode dan terlihat gaul dalam lingkungannya. Apalagi saat ini trend fashion sanagt memanjakan para peminatnya. Mulai dari segi rancangan, warna hingga para model-model yang membuat pakaian itu terlihat indah dan banyak peminatnya. Siapa yang jadi sasarannya kalau bukan remaja dan pemuda? Hingga para pemuda lupa kewajibannya untuk menutup aurat dengan jilbabnya. Karena menurut para pengikut Ghozul Fikr ini, jilbab hanyalah bidaya Arab dan gak wajib diterapkan di Indonesia. Astaghfirullah…  Hingga kadang2 para jilbaber juga ikut terkena imbasnya, mereka tetep dengan kerudungnya tapi dengan busana press body dan parahnya lagi melepas jilbabnya karena termakan “gosip” tersebut. Dan  banyak yang berkata begini, ” lebih baik hatinya dijilbabin dulu baru luarnya.” ini juga salah satu korban Gozhul Fikr.

2. Fun. atau Hiburan… yang paling marak saat ini adalah media elektronik, seperti Televisi dan Internet. Hampir semua orang menikmatinya tiapa hari, tiada hari tanpa TV ataupun internet. Kadang kita tak pilah2 lagi segi tontonan kita, mana yang perlu dan mana yang tak perlu. Dari media inilah budaya Gozhul Fikr mudah menyebar. Padahal terlalu banyak menonton televisi tak baik untuk otak kita. Terutama untuk anak kecil dan remaja, hal ini bisa menghambat kinerja otak kita diakibatkan oleh radiasi yang dipancarkan oleh televisi. Bukankah masih banyak hal yang bisa dilakukan daripada membuang waktu menonton televisi untuk melihat tayangan yang tak bermanfaat?

3. Food. Setiap yang bernafas pasti perlu makan, terutama manusia. Tapi kita sebagai umat muslim tidak boleh sembarangan, mesti tau halal dan haramnya. karena makanan itu akan sangat berpengaruh pada diri kita hingga akhlaq kita, jangan sampai ada makanan haram yang sengaja masuk ke tubuh kita dan merusak organ badan kita. Mana yang halal dan haram, sudah disebutkan dalam Al-Qur’an. Jangan sampai kita tertipu dengan lebel “halal” yang kadang mudah dibeli dan dicetak oleh produsen makanan. Kadang memang benar yang dijual adalah makanan kategori halal, tapi berlebel produsen asing(non muslim). Bagaimana dengan proses pembuatannya, kebersihan alat2 yang digunakan, bahan-bahan pencampurnya? sudah telitikah kita? 

Sungguh banyak bahaya yang ditimbulkan “virus” satu ini dan akibatnya pelan tapi pasti. Semakin rusaknya iman dan taqwa kita pada Illahi Rabbi. Ragu akan kesejatian dan kebenaran Al Qur’an. Terutama para pemuda, perbanyaklah taqarub ilallah, jangan sampai Islam kehilangan para mujahid dan mujahiddahnya di era globalisasi ini. karna di tangan kita, masa depan akan terbentuk. Kegoyahan iman kita akan menghancurkan Islam di masa depan.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan menguatkan azzam kita untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan Islam. Amin.

tags

Salam Ta’aruf

Selamat datang di taman bungaku yang baru, yang mungkin kadang tak tercium wanginya tapi semoga dapat dinikmati keindahannya dari sudut yang berbeda. Kadang pula tercium wanginya, tanpa kita lihat dimana kecantikannya.

Semoga sahabat sekalian bisa ikut menanam bunga inspirasi dan manfaat disini. Matur nuwun

tags