ada apel dan jeruk di kulkas, tapi lagi males makan buah…
Ya sudah, dicampur sama agar-agar aja ![]()
lumayanlah nambah kegiatan, sambil nunggu mas pulang kantor (larut) malam ini karena ada jadwal mabit di kantor. Semoga beliau suka
ada apel dan jeruk di kulkas, tapi lagi males makan buah…
Ya sudah, dicampur sama agar-agar aja ![]()
lumayanlah nambah kegiatan, sambil nunggu mas pulang kantor (larut) malam ini karena ada jadwal mabit di kantor. Semoga beliau suka
hari ini kembali sibuk di dapur (lagi semangat belajar masak
)
buat pancake, karena penasaran sama jajan yang satu ini. pernah sih ngerasain waktu hanimun ke ubud, jadi ingin belajar buat sendiri. Ternyata, agak bantet dan kurang manis (kata suami
)
Yang kedua, itu kerupuk dari ampas sari kedelai yang waktu ini sempet dibikin. Biar gak mubadzir, jadi ampasnya dibuat kerupuk aja. Rasanya, mirip kayak keripik tempe dan alhamdulillah mertua seneng
moga-moga bisa masak yang lain lagi dan lebih enak lagi
Rasulullah mengatakan
“Air mata boleh mengalir , hati boleh sedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah Ridha” (book Khadijah, the true love story of Muhammad)Semoga Allah menjaga yang terkandung bila itu baik, dan mengeluarkan bila itu buruk. Semoga perasangka baik ini, memang sesuai takdir-Mu
![]()
aku tau, engkau ada di sana sayang…
![]()
Kini aku bisa menulis cerita yang lebih luas…
tak hanya tentang hidupku, tapi juga hidupmu, dan kita..
Cerita yang mungkin tak selalu indah, tak selalu sedih, tapi berwarna
Terjadi begitu cepat, aku belum begitu mengenalmu, tiba-tiba kita terikat akad sehidup semati. Bahkan akupun serasa masih bermimpi ketika aku harus mencium tanganmu. Aku masih tak percaya, ketika harus duduk berdampingan denganmu. Aku juga masih bingung, ada kamu disisiku…
Baiklah…
kau telah memilihku dan aku telah menerimamu.
dengan ridho Allah, orang tua dan iringan doa semuanya, kita akan berjalan bersama dan keberkahan akan mengiri langkah kita.
091011
Ternyata membuatmu tersenyum adalah perjuangan dan senyummu, membuat hariku menjadi indah
you and i will never be a part, from this moment on,… <3
“Ibuku sepanjang hidupnya tak memiliki apapun 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah sisir, cermin, piring Alquran, tasbih dan sajadah. Dia tak memegang satu senpun uang, tak memiliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila salah satu dari anaknya memeberinya uang, dia akan menerimanya dengan senang hati dan mendoakannya namun keesokan harinya uang tersebut sudah tidak lagi ditangannya.
Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah selembar kain, beliau berkata: “Jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak, tolong berikan kepada si “fulanah” yang rumahnya disana, kulihat mukena yang dipakainya telah using dan tak layak lagi dipakai.
Setiapkali aku protes dengan dengan caranya menolak harta dunia dia selalu saja berkata :
“Tahukah kau nak…cita-citaku adalah termasuk dalam kelompok orang yang diceritakan Nabi Muhammad SAW bahwa saat prosesi hisab masih berlangsung dan Shiratal Mustaqim masih dibentangkan, ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi Muhammad di pintu-pintu syurga hingga malaikat bertanya; “ Siapakah kalian yang telah berada disini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?”
“Kami adalah sekelompok orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk ke dalamnya. Tak ada yang harus dihisab dari kami.” Jawab mereka.
Anakku… aku ingin keluar dari dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.”
Pernahkah kau kira?Diantara mereka yang sibuk membangun istana dunia. Ada dia yang lebih suka menata singgasana di surga
dari buku “Bidadari Bumi”
Semakin lama hidup, ternyata semua tak serumit yang kupikirkan, tapi tak semudah yang kubayangkan.
Pilihan-pilihan yang muncul tanpa prediksi, wajah-wajah baru yang harus kutemui tanpa permisi. Perubahan-perubahan yang membuat raut wajah makin tak jelas, seiring musim yang makin tak terkendali. Jalan hidup yang kapan saja bisa berubah seperti pusaran angin yang berputar ke segala penjuru arah. Dan do’a-do’a yang tak dinyana bisa terkabul kapan saja seperti musim hujan yang datang lebih cepat ataupun penantian musim panas yang terlampau panjang.
Pada suatu hari, Isham bin Yusuf berkunjung ke majelis pengajian Hatim Al-Asham. Kunjungan itu dimaksudkannya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyan yang memojokkan. Katanya, “Hai Abu Abdurrahman, bagaimana cara tuan shalat?”
Hatim menoleh kepadanya, lalu menjawab,” Bila waktu shalat tiba, maka saya mulai berwudhu dengan wudhu lahir dan wudhu batin.”
Isham bertanya, “Apa yang Tuan maksud dengan wudhu batin itu?”
Ia menjawab, “Jika pada wudhu lahir, saya mencuci anggota tubuh saya dengan air, maka pada wudhu batin, saya cuci dengan tujuh macam “jalan”, yakni dengan bertobat, menyesal,menghapuskan cinta dunia, memalingkan diri dari pujian makhluk, membuang rasa cinta kepada pangkat dan kedudukan, serta membuang rasa benci dan iri. Kemudian saya pergi ke masjid. Ketika saya mengangkat kedua belah tangan untuk takbiratul ihram, maka tampaklah Ka’bah di hadapan saya. Saya berdiri dengan perasaan harap dan takut. Allah memandangku, surge di kananku, neraka di kiriku, dan malaikat maut di belakangku. Dan seakan-akan saya sedang meletakkan kaki di sirathalmustaqim, saya berpikir bahwa itulah shalat terkhir bagiku. Lalu saya takbir dengan sebaik-baiknya, membaca ayat dengan tartil dan tafakur, ruku dengan tawadhu’, sujud dengan tadharru’ ber-tasyahhud dengan penuh harap, dan saya akhiri dengan salam yang tulus ikhlas. Inilah shalat saya selama tiga puluh tahun.”
(Dikutip dari buku “Wudlu sebagai terapi”)
Andai saja Allah bukan yang Maha Adil, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, mungkin orang-orang kafir itu takkan bisa minum air yang diciptakan Allah.
Ditengah badai yang dingin, suatu hari ku menemukan kedai yang begitu hangat…. Para sahabat yang juga dingin entah karena hujan yang begitu lebat ataupun salju yang terus mengguyur tubuh, mari minum teh…

TEH ini ini benar-benar menyegarkan jiwa, membuang kolesterol dalam hati, menyemangatkan ibadah, dan membuat hati husnudzon dan optimis kepada Rahmat allah swt.
Itulah yang disajikan dalam menu Kafe Sufi. Semua pelanggan biasanya selalu memesan teh ini, baik diminum sesudah menikmati menu lain, atau sebagai penghantar. Selain baru dipetik dari Kebun Ma’rifat, teh ini disajikan dengan tatacara yang unik. Para pelayannya dan penyedu the ini, diwajibkan berwudhu lebih dahulu, dan setiap gerakan seduanya membaca Basmalah, sembari terus berdzikir dalam hatinya.