“Ibuku sepanjang hidupnya tak memiliki apapun 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah sisir, cermin, piring Alquran, tasbih dan sajadah. Dia tak memegang satu senpun uang, tak memiliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila salah satu dari anaknya memeberinya uang, dia akan menerimanya dengan senang hati dan mendoakannya namun keesokan harinya uang tersebut sudah tidak lagi ditangannya.

Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah selembar kain, beliau berkata: “Jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak, tolong berikan kepada si “fulanah” yang rumahnya disana, kulihat mukena yang dipakainya telah using dan tak layak lagi dipakai.

Setiapkali aku protes dengan dengan caranya menolak harta dunia dia selalu saja berkata :
“Tahukah kau nak…cita-citaku adalah termasuk dalam kelompok orang yang diceritakan Nabi Muhammad SAW bahwa saat prosesi hisab masih berlangsung dan Shiratal Mustaqim masih dibentangkan, ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi Muhammad di pintu-pintu syurga hingga malaikat bertanya; “ Siapakah kalian yang telah berada disini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?”
“Kami adalah sekelompok orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk ke dalamnya. Tak ada yang harus dihisab dari kami.” Jawab mereka.
Anakku… aku ingin keluar dari dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.”

Pernahkah kau kira?Diantara mereka yang sibuk membangun istana dunia. Ada dia yang lebih suka menata singgasana di surga

dari buku “Bidadari Bumi”