Adzan subuh memanggil dengan lantang, membuatku harus beranjak ke kamar mandi. Hawa subuh yang menyengat kulit dan menusuk tulang, hampir membuatku enggan. Suasana desa yang sepi, suara ayam dan burung masih nyaring di sana sini, makin menambah semangat pagi.

Nenek sudah asyik di dapur ditemani kucing kesayangannya dari sebelum subuh. Selama ini, kucing inilah yang menemani kakek dan nenek selama anak cucunya pergi ke tanah seberang. Tubuhnya makin kurus, digerogoti penyakit kerinduan yang kuharap kehadiranku bisa jadi penawarnya.Kakek, yang tegap dan alhamdulillah sehat sudah persiapan berangkat ke sawah.

Belajar memasak dengan nenek, pergi ke sungai, berbaur dengan tetangga. Sambil menikmati sejuknya desa (baca: dingin), yang belum terbiasa untuk kulitku. Untuk mengisi waktu, main ke kota dulu ah,,, bertemu sahabat-sahabat, sambil cari ilmu dan peluang rezeki.

Kotaku,,, masih seperti dulu. sibuk diwaktu siang dan lengang saat beranjak malam. setelah isya’ semua gorden tertutup rapi dan penghuninya sudah berselimut ria sambil menonton televisi. Pelajaran sosialisasi, bisa kudapatkan penuh disini. Bagaimana nantinya aku harus hidup bermasyarakat dan bertetangga. Pelajaran yang tak pernah kudapatkan selama di tanah seberang. Ajaran keegoisan, sak karepedewe, sumpah serapah dalam keluarga, kekerasan dan ajaran bagaimana harus bertahan dalam keadaan itu. Kompleks….

Senyum-senyum dan pelukan yang kurindukan,,, teriakan keakraban yang membuatku sungguh sangat mencintai kotaku dan segala isinya. tutur bahasa halus yang membuatku nyaman… Saat itu, tetangga-tetanggaku sedang berkumpul bermain voli di tanah yang tak begitu luas. hal kecil yang bisa menciptakan keharmonisan.

Hmmmm aroma masa kecil semakin menusuk ingatanku dan makin mengahnyutkanku ke masa lalu. dulu di tanah itu aku bermain dengan sohib-sohib kecilku yang kini telah beranjak dewasa. Beramai-ramai pulang pergi sekolah, walau kadang kita juga musuhan hanya karna hal sepele. Kini, mereka yang slalu memelukku saat dadaku sesak dan akupun begitu. masa yang indah…

Sebelum maghrib, aku harus pulang. aku tak mau kakek nenek cemas, karena jarak yang lumayan jauh, area yang lumayan sepi, keadaan jalan yang teksturnya gak begitu bagus dan cuaca yang makin dingin. Sesuai dugaanku, kakek sudah menunggu di teras, ditemani kucing yang asyik dengan santapan petangnya.

Dan malam makin larut, desa makin senyap. Aku yang lelah, terbuai alunan mimpi dan terlelap..

Ku hanya ingin, setiap saat ku buka mata, hawa subuh itu yang kucium… semoga.

Ya Rabb, wujudkan mimpiku

Tiangku berdiri kokoh dengan kubah yang megah. Lantai yang mengkilat dan mimbar yang penuh ukiran cantik. Tiap 5 waktunya, jama’ah tak pernah sepi. Tiap adzan berkumandang, saf-saf rapi menghiasiku, tertunduk yakin untuk menghadap Illahi Rabbi.

Tapi, kenapa setiap harinya hanya wajah-wajah ini yang mendatangiku? wajah-wajah yang mulai renta, langkah-langkah yang mulai berat dan goyah, suara imam yang mulai serak? tak adakah yang menggantikannya?

Dimana, wajah segar itu? langkah tegap dan suara yang lantang serta merdu mengumandangkan adzan dan ayat-ayat Qur’an??!! Kurindukan kalian… tak terbersitkah dalam hati kalian untuk merawatku, meramaikan dengan tilawah dan dzikir? Terakhir, aku menemukan kalian saat Ramadhan disini. Haruskah kumenahan kerinduan ini, hingga ramadhan tiba? aku takut, Allah tak memberi umur pada kalian.

Mungkin bagi kalian, aku bukan sesuatu yang penting untuk dikunjungi. Aku tak bisa menumbuhkan rasa cinta pada hati dan jiwa. Sedih, sangat sedih melihat kalian tak sedikitpun melirikku saat lewat dihadapanku. sedih, saat kalian bersikap semena-mena padaku. Berkata-kata kotor, merokok dan memperlakukanku tak sepantasnya. Allah sangat memuliakanku, tapi kenapa kalian tidak? justru kalian makin menjauhiku dan mendekati semua yang Allah murkai,,,,

Haruskah kalian menunggu renta untuk menghampiriku?

Atau kalian lupa dengan sabda Rasulullah SAW, bahwa nantinya kalian akan mendapat naungan dari Allah SWT disaat tak ada satupun makhluk yang memberi naungan di akhirat bila kalian memakmurkanku dan menambatkan hati kalian padaku…

Aku tak bisa berbuat banyak, selain memandang kalian dalam kebisuan dan memohon Allah SWT agar menggerakkan hati kalian untuk mencintaiku.

Rintihan sebuah masjid yang tak hentinya menanti langkah-langkah para pemuda untuk mencintainya….

 

Fathimah a.s. berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku berkenaan dengan orang yang meremehkan shalat, baik laki-laki maupun wanita. Ia bersabda: “Barang siapa yang meremehkan shalat, baik laki-laki maupun wanita, Allah akan menimpakan atasnya lima belas macam bala:
Allah akan menghilangkan berkah dari umurnya.
Allah akan menghilangkan berkah dari rezekinya.
Allah akan memusnahkan tanda-tanda orang saleh dari wajahnya.
Setiap amalan yang diamalkannya tidak akan diberi pahala.
Doanya tidak akan naik ke langit (baca : tidak dikabulkan).
Doa orang-orang saleh tidak akan meliputinya.
Ia akan meninggal dunia terhina.
Ia akan meninggal dunia kelaparan.
Ia akan meninggal dunia kehausan. Seandainya ia minum seluruh air sungai yang berada di dunia ini, niscaya dahaganya tidak akan sirna.
Allah akan mengutus malaikat yang siap menakut-nakutinya di dalam kubur.
Kuburannya akan terasa sempit dan hanya kegelapan yang akan menyelimutinya.
Allah akan mengutus malaikat yang akan menyeretnya dalam keadaan tengkurap dengan disaksikan oleh para makhluk (yang lain).
Ia akan dihisab dengan hisab yang berat.
Allah tidak akan sudi melihat wajahnya (baca : berpaling darinya), dan
Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksaan yang pedih”.

Keputusan itu telah dijatuhkan, dan waktupun terus berjalan. Tak boleh ada sesal ataupun kecewa.

Bukan maksudku untuk tak membalas kasih sayang dan kebaikan kalian. Tanpa kalian harus tau apa penyebabnya.

Bukan maksud pula untuk mengecewakan kalian, yang sungguh menyayangiku.

Tapi, hargailah cita-cita dan keinginanku………..

Bukan berarti aku tak menghargai harapan yang kalian pupuk

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang bisa memetik impianku.

Janganlah tanam penyesalan itu dalam hati kalian, hingga tumbuh subur dalam sukmaku.

Kembangkanlah biji-biji do’a dalam jalanku, karna tanpa kalian aku takkan menjadi diriku.

Ataukah harus kubayar rasa kecewa itu dengan kebahagiaanku?

Sungguh, aku tak sanggup dan tak ikhlas. Terlalu berat untukku…

Rabbi Illahi,,, ampuni aku…

gugurkanlah rasa kecewa itu dalam dada mereka, gantikan dengan Rasa pengertian dan keikhlasan.

Gantikanlah rasa itu dengan berkah-Mu padaku,,

terangi jalanku, dan wujudkan pengharapanku,,,

Agar mereka tau, turut mendoakanku dan menambahkan berkah-Mu untukku

 

Ya Rahman, Ya Rohim,,,

Tiada kuasaku untuk merubah apa yang telah Kau tentukan

Ku pinta, ridhai pilihanku ini..

 

bapak&ibu, dengan cara apapun aku akan berusaha membahagiakan kalian

walau tak harus menjadi orang yang bertahta

aku bahagia hidup sederhana bersama kalian di tanah perantauan

karena kalian telah memberikan arti “berhasil” yang sebenarnya,padaku

untuk “kalian” yang kusayangi dan telah kusakiti

tiada kata yg bisa kupersembahkan selain maaf

semoga Allah menggganti kecewa itu dengan Rahmat tiada batas

izinkan aku menikmati masa-masa sulitku ini dengan iringan do’a kalian

aku tau kalian menyayangiku,begitupun aku

Insya Allah, aku akan bisa berhasil melewati jalan yang kupilih

Kutulis saat derai air mataku tertumpah di sela-sela peningnya masalah yang tak kunjung berakhir ,saat kesabaran makin di uji dan bermunajat tiada henti.

tags

tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi

kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi

syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik

tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa

 

-by D’masiv-

 

 

 i like this song

tags

Ini yang sedang marak di beritakan dan dibicarakan, bahkan memang sedang menjadi realita terkini. Gozhul Fikr atau perang pemikiran. Beberapa minggu yang lalu, tema ini sempat sedikit digunjing dalam ta’lim remaja masjidku dan sebelumnya sempat membaca dari pesan tarbiyah yang kuikuti di dunia maya.

Budaya Gozhul Fikr ini merupakan upaya yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk menghancurkan pikiran dan menimbulkan keraguan umat Islam terhadap Islam itu sendiri. Dan yang menjadi sasaran terbesar dan paling mudah adalah para PEMUDA.  Dan yang menjadi alatnya adalah 3F, yaitu Fashion, Fun, dan Food.

1. FASHION.  tak perlu ditanya, remaja mana yang tak ingin bergaya. Tak ingin mengikuti mode dan terlihat gaul dalam lingkungannya. Apalagi saat ini trend fashion sanagt memanjakan para peminatnya. Mulai dari segi rancangan, warna hingga para model-model yang membuat pakaian itu terlihat indah dan banyak peminatnya. Siapa yang jadi sasarannya kalau bukan remaja dan pemuda? Hingga para pemuda lupa kewajibannya untuk menutup aurat dengan jilbabnya. Karena menurut para pengikut Ghozul Fikr ini, jilbab hanyalah bidaya Arab dan gak wajib diterapkan di Indonesia. Astaghfirullah…  Hingga kadang2 para jilbaber juga ikut terkena imbasnya, mereka tetep dengan kerudungnya tapi dengan busana press body dan parahnya lagi melepas jilbabnya karena termakan “gosip” tersebut. Dan  banyak yang berkata begini, ” lebih baik hatinya dijilbabin dulu baru luarnya.” ini juga salah satu korban Gozhul Fikr.

2. Fun. atau Hiburan… yang paling marak saat ini adalah media elektronik, seperti Televisi dan Internet. Hampir semua orang menikmatinya tiapa hari, tiada hari tanpa TV ataupun internet. Kadang kita tak pilah2 lagi segi tontonan kita, mana yang perlu dan mana yang tak perlu. Dari media inilah budaya Gozhul Fikr mudah menyebar. Padahal terlalu banyak menonton televisi tak baik untuk otak kita. Terutama untuk anak kecil dan remaja, hal ini bisa menghambat kinerja otak kita diakibatkan oleh radiasi yang dipancarkan oleh televisi. Bukankah masih banyak hal yang bisa dilakukan daripada membuang waktu menonton televisi untuk melihat tayangan yang tak bermanfaat?

3. Food. Setiap yang bernafas pasti perlu makan, terutama manusia. Tapi kita sebagai umat muslim tidak boleh sembarangan, mesti tau halal dan haramnya. karena makanan itu akan sangat berpengaruh pada diri kita hingga akhlaq kita, jangan sampai ada makanan haram yang sengaja masuk ke tubuh kita dan merusak organ badan kita. Mana yang halal dan haram, sudah disebutkan dalam Al-Qur’an. Jangan sampai kita tertipu dengan lebel “halal” yang kadang mudah dibeli dan dicetak oleh produsen makanan. Kadang memang benar yang dijual adalah makanan kategori halal, tapi berlebel produsen asing(non muslim). Bagaimana dengan proses pembuatannya, kebersihan alat2 yang digunakan, bahan-bahan pencampurnya? sudah telitikah kita? 

Sungguh banyak bahaya yang ditimbulkan “virus” satu ini dan akibatnya pelan tapi pasti. Semakin rusaknya iman dan taqwa kita pada Illahi Rabbi. Ragu akan kesejatian dan kebenaran Al Qur’an. Terutama para pemuda, perbanyaklah taqarub ilallah, jangan sampai Islam kehilangan para mujahid dan mujahiddahnya di era globalisasi ini. karna di tangan kita, masa depan akan terbentuk. Kegoyahan iman kita akan menghancurkan Islam di masa depan.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan menguatkan azzam kita untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan Islam. Amin.

tags

Sungguh lemahnya imanku,
hinanya hamba-Mu ini,,,,
bila dalam qalbuku sempat terbesit bahwa Allah takkan mengirimkan setetes bantuan untukku…. Astaghfirullah,,,
memang,saat semakin aku percaya dan yakin akan kekuasaan-Nya,saat semakin aku tahu bahwa Allah mendengar do’a-do’aku, saat semakin aku berusaha berhusnudzan pada-Nya..
maka Allah akan semakin mengujiku……
semakin mengujiku,,,,

aku bukanlah orang yang berderajat tinggi di mata-Mu
dan aku juga bukan orang suci
ataupun orang kuat iman,,,

hanya kupinta sekali lagi,
tunjukkan hamba setitik cahya terang itu
serta, beri hamba kesabaran dan keikhlasan menjalani semuanya…

Aku hanya kupu-kupu kecil yang mencoba belajar terbang. Kadang tak tau, dimana harus hinggap untuk mengistirahatkan sayapku. Entah ini bunga atau hanya tangkai lemah yang tak sanggup menahan sandaran sayapku. Hingga disaat aku tak sanggup terbang, mahkota bunga itu menangkap tubuhku yang lunglai. Tanpa kutahu rupa warnanya, apalgi keindahannya. Yang kutahu, dia penolongku. Dia hanya diam, tapi dengan pasti membuatku yakin, suatu ketika aku akan mampu terbang lagi dan menghiasi taman fana ini.

Tak banyak yang dilakukannya untukku, walau mungkin pada awalnya dia terpikat melihat sayapku yang anggun berwarna warni. Tapi tanpa dia tahu, aku tak lebih dari makhluk lemah yang tanpa sayapku, takkan ada yang melirikku, termasuk sang bunga penyelamat. Dan kini, sayapku benar-benar patah, tak ada lagi keindahan yang terlihat dari diriku,,,, terkulai lemah dalam kesakitanku, menangis dalam keputus asaanku dan mencoba tertatih-tatih mengumpulkan semangat hingga akan tumbuh sayap yang baru dan tak hanya ketergantungan bersandar pada mahkota si bunga.

Hingga terbesit dalam benakku, andai aku bisa menjadi bunga sama sepertinya… aku bisa melihat rupanya, keelokannya kapanpun aku mau. melihatnya layu saat kemarau dan kembali merekah seusai hujan turun. Hingga kini aku telah di ujung kelopaknya, entah aku akan dijatuhkannya perlahan dan tak mengusikku lagi, atau memang dibiarkan sendiri untuk segera bangkit dari kelemahanku. Entahlah…

Baiklah, aku akan belajar  berjalan tanpa bersandar padanya. tanpa harus terbang meninggalkannya… tanpa pernah berhenti berharap…

Ataukah akan ada bunga penyelamat lain, yang sudi menjadi sandaran kupu-kupu saat dia tak mampu terbang lagi, lagi dan lagi?

tags,