Sejatinya, agama adalah kepercayaan dan bukan hal yang tepat sebagai bahan perdebatan. Apalagi yang bicara adalah sesama orang yang berilmu rendah dengan iman yang tipis dan wujudnya berbeda aqidah. Hasil akhirnya, hanya akan menimbulkan sejuta tanda tanya terhadap kepercayaan masing-masing dan ujungnya bukan mempertebal iman tapi makin mengikis keyakinan. Masih syukur kalau akhirnya kita mau mencari tau lebih dalam tentang agama kita sendiri dan menanyakannya pada yang ahli, nah kalau tidak??? Bisa-bisa kita menuju jalan keraguan menuju kota kemurtadan, naudzubillah…
Berbicara dengan orang yang “berbeda” itu bukan hal mudah, mesti bisa menjelaskan secara rasional dan logis. kenapa bisa begitu? kenapa ini dilarang? kenapa harus begini? dan bla bla bla…. Lebih baik, menghindari pembicaraan yang mengarah hal-hal tersebut. Sambil mentarbiyah diri sendiri untuk terus memperdalam ilmu agama. Cari tau apa yang belum kita ketahui. Terkadang pertanyaan yang “mereka” ajukan juga perlu kita cari jawabannya, karena kebanyakan dari kita sendiripun tidak tau jawabannya, istilahnya “terimo mateng” atau terima jadi. Udah dari sananya, haram ya kita ikuti haram tanpa kita tau, mengapa bisa diharamkan? Andai kita mau berpikir dan mencari tau, semua itu ada jawabannya dalam Kitab extra lengkap dan terlengkap yaitu AL Qur’an dan masih dibantu lagi oleh wakilnya yaitu Hadist. Tapi apa yang kita lakukan selama ini, membiarkan Al Qur’an jadi pajangan di atas lemari dan membacanya kalau lagi mood atau mungkin saat Ramadhan saja. Kadang, kita rajin membaca tapi lupa mentadaburrinya…
Mari kita luangkan waktu, setidaknya 10 menit saja untuk membukanya. kita bisa rajin baca koran saat sarapan pagi, tapi Qur’an yang jadi tuntunan hidup kita malah terlupakan. Kitab terindah yang disusun dari kalimat-kalimat langit, kata-kata yang santun dan romantis, tiada ada cela dalam 1 hurufpun, dan tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.
Semoga tulisan ini bisa menjadi penyemangat kita untuk kembali membuka Qur’an dan mentadaburrinya, menambah keyakinan kita pada agama Allah. Dan kembali menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman segala sesuatu yang terjadi pada kita maupun segala yang ada di dunia ini.
saat-saat jenuh di depan layar, bising oleh suara perdebatan yang tak berarti
dan saat menunggu jawaban atas do’a-do’aku